DILEMA KONSERVASI KAMPUSKU - Catatan Sang Bidikmisi ke-6

Konservasi adalah suatu usaha dalam pemeliharaan dan perlindungan terhadap suatu hal secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahannya dengan jalan mengawetkan dan melakukan pelestarian. Konservasi, itu lah sebuah kata yang sering aku dengar di kala masa-masa awal aku kuliah. Sebuah kata yang telah dikukuhkan oleh Unnes menjadi label kampus. Unnes, perguruan tinggi yang kini menjadi kampusku telah memplokasmirkan diri sebagai kampus konservasi tepat di tahun 2010. Bertepatan dengan tahun aku masuk kuliah. Sebuah label baru yang mengusung konservasi lingkungan, konservasi moral dan konservasi budaya.

Sebuah label baru telah bersanding dengan nama kampusku kini. Label baru itu pun banyak melahirkan kebijakan baru. Kebijakan-kebijakan baru itu pun banyak yang diperuntukan bagi mahasiswa.  Uji cobanya itu di prioritaskan juga untuk para mahasiswa angkatanku yang memang baru masuk. Aku sebagai mahasiswa baru dan juga para temanku masih begitu lugu dan polosnya menerima kebijakan-kebijakan yang ada.

                Banyak kebijakan baru yang dibuat, kebijakan dalam hal berpakaian salah satunya. Sebagai bentuk upaya untuk menjaga perilaku dan moral lewat cara berpakaian. Setiap hari senin dan selasa memakai pakaian hitam putih, rabu dan kamis memakai batik dan pada hari jum’at memakai seragam pramuka. Aku pun menerima saja kebijakan itu, aku rasa tak ada salahnya kebijakan itu aku laksanakan. Malah bagus fikirku, hal itu bisa menjadikan penyetaraan yang  sama antar sesama mahasiswa. Tak ada persaingan dalam hal berpakaian, tak ada kesenjangan yang terlihat antar si miskin dan si kaya. Semuanya nanti bisa nampak setara. Kebijakan yang baik menurutku, namun tat kala program kebijakan itu mulai berjalan satu minggu dua minggu maka mulai lah terdengar suara para mahasiswa.

“Pengaturan pemakaian seragam membatasi kebebasan berekspresi mahasiswa”
“Berseragam bagi mahasiswa sama saja membuatnya seperti siswa SMA”
“Kami bukan para taruna yang memang nampak bagus jika diseragamkan, tapi kami mahasiswa kami berbeda dengan mereka”

Kalimat-kalimat seperti itu lah yang
sering aku dengar. Mulai terdengar kritik dan saran di sana-sini, meminta kebijakan penyeragaman itu ditinjau ulang. Dari mulai poster-poster yang bertebaran di mading-mading, selebaran-selebaran menolak penyeragaman, acara-acara diskusi membahas kebijakan penyeragaman, hingga munculnya lagu-lagu yang menolak hal itu.  Sekarang fikiranku pun mulai sedikit berubah. Awalnya aku meyakini hal itu adalah suatu kebijakan yang bagus, namun mulai tersirat fikiran kritis yang terpengaruhi oleh suasana sekitarku. Mungkin memang tak selayaknya menyamakan para mahasiswa lewat seragamisasi seperti itu, ternyata sama itu belum tentu indah dan baik. Justru perbedaan lah yang memang sering menimbulkan kreasi dan inovasi baru. Tingkat ekspresi mahasiswa yang berbeda memang haruslah dihargai. Hanya saja memang pembatasan ekspresi juga perlu dilakukan, agar berbagi ekspresi mahasiswa itu tidak menyimpang dari aturan dan budaya bangsa.

                Lambat laun kebijakan penyeragaman mulai ditinjau ulang. Pemakaian seragam hitam putih masih berlaku di beberapa fakultas. Hal itu tidak begitu jadi masalah karena memang latar belakang Unnes yang merupakan perguruan tinggi kependidikan, pakaian hitam putih pun dianggap wajar karena memang sebelum angkatanku masuk sudah ada beberapa fakultas yang menerapkannya. Kemudian kebijakan memakai batik, hal ini justru yang menurutku di dukung oleh para mahasiswa. Aku jadi berfikir, ternyata teman-temanku sangat menghargai budaya bangsa berupa batik ini. Batik yang merupakan sebuah karya seni yang sangat indah ini merupakan warisan budaya yang memang perlu dilestarikan. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri saat memakainya. Saat mengenakannya di tubuh serasa diri ini mengatakan, “Aku bangga jadi anak Indonesia”. Kini pun semakin membanggakan, karena kini batik telah diakui dunia sebagai warisan budaya dunia yang telah dikukuhkan oleh UNESCO.


Kebijakan penyeragaman yang sangat ditentang dan tidak disukai oleh banyak teman-temanku adalah pemakaian seragam pramuka. Ini lah seragam yang membuatku serasa masih seperti anak SMA. Hingga kadang saat aku di kampus memakainya, banyak kakak tingkat yang iseng mengatakan, “Wah ada anak SMA disini”. Sebuah kalimat yang sebenarnya merupakan kalimat candaan tapi itu juga bisa terasa nyesek tak enak di hati. Awal-awal protes terhadap penyeragaman pramuka ini banyak yang menyerukan bahwa jika memang mahasiswa harus memakai pramuka tentu dosennya juga harus memakai juga. Awal kebijakan itu berjalan, dosen pun akhirnya banyak yang mekai pramuka pada hari jum’at. Oh namun memang terlihat tidak pas rasanya melihat sang dosen memakai seragam pramuka. Tentu para dosen lebih paham tentang perasaan mereka dalam memakai seragam pramuka saat mengajar. Akhirnya kebijkan memakai seragam pramuka itu pun dihilangkan, kini hanya menyisakan memakai seragam hitam putih dan seragam batik. Semuanya kembali berjalan dengan baik, penyeragaman itu pun tidak serratus persen dibatasi. Mahasiswa diberi kebebasan dalam mengkreasi dan berekspresi dengan seragam hitam putih dan batiknya. Boleh memakai batik berbagai warna, bentuk dan gayanya masing-masing. Hanya memang harus sesuai dengan norma dan nilai kesopanan yang ada di kampus. Itu lah memang mahasiswa, sebuah tingkatan yang sulit dibatasi dibalik idealisme mereka yang sedang dalam masa tumbuh-tumbuhnya.

Konservasi Lingkungan, sebuah upaya yang dilakukan oleh Unnes untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Mulai tahun 2010 itu kampusku benar-benar giat-giatnya menanam pohon. Aku pun tak luput dari kebijakan Unnes untuk menanam pohon. Setiap mahasiswa baru diwajibkan menanam tiga pohon, bagiku itu tidak masalah. Hal itu sangat baik dan sangat bermanfaat bagi lingkungan. Kebijakan yang satu ini tidak ramai diprotes seperti kebijakan seragamisasi. Banyak mahasiswa justru sangat mendukung kebijakan ini.
               
Oksigen, salah satu sumber kehidupan manusia. Sumber kehidupan untuk bernafas yang berasal dari hasil fotosintesis tumbuhan. Pohon-pohon yang menghijau sangat jarang sekali ditemui di kota-kota besar. Bukan pohon yang menjulang tinggi yang bisa ditemui, namun gedung-gedung yang kokoh berdiri saling berlomba menunjukkan siapa yang paling tinggi. Jalan-jalan terasa panas, udara yang berhembus pun terasa seperi kibasan gelombang panas yang mendera tubuh. Panas seperti itu lah yang dahulu aku rasakan di kota Semarang saat masa awal aku ke Semarang, namun hal itu berbeda sekali di area kampusku. Hjaunya pohon-pohon nan rindang berjejer meniupkan hawa sejuk di tubuhku yang bersanding di antara gedung-gedung kampus. Segarnya oksigen dapat aku rasakan disini, semua itu juga karena kebijakan kampusku tentang konservasi lingkungan.

Selain kebijakan penanaman pohon, ada kebijakan baru pula yaitu setiap mahasiswa tidak diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor di area kampus. Sama seperti kebijakan seragamisasi, kebijakan ini pun banyak di protes mahasiswa.  Kebijakan ini tidak hanya diperuntukan untuk mahasiswa baru, namun berlaku bagi seluruh civitas akademika di Unnes. Banyak mahasiswa-mahasiswa senior yang protes seperti dulu. Lagi-lagi aku sebagai mahasiswa baru pun seperti hanya jadi penonton saja. Menonton para kakak tingkat itu menyuarakan aspirasi mereka. Aku, tetapi tetap senang dan tenang. Tak seperti yang sering aku lihat di televisi, saat mahasiswa menyuarakan aspirasinya justru dengan kekerasan, demonstrasi secara brutal, membakar-bakar ban bahkan sampai membakar gedung kampus mereka. Di Unnes tak pernah sekalipun aku melihat hal seperti itu, semua di lakukan kakak-kakak tingkatku dengan suasana relatif kondusif. Mungkin ini karena budaya di kampusku yang berlatar kependidikan, hingga banyak mahasiswanya yang masih menjunjung tinggi kenormatifan.

  Protes terjadi begitu ramai, menyuarakan kenapa tidak boleh memakai kendaraan bermotor. Aku berfikir sebagai mahasiswa baru, ya mungkin itu salah satu untuk mengurangi polusi udara. Faktanya, namun bagiku ya tetap saja jika tidak diperboleh di area kampus, tetap saja para mahasiswa akan tetap lalu lalang dengan berbagai kendaraan motornya untuk beraktifitas di luar kampus. Aku lihat sebagaian besar dari teman-temanku pun banyak yang membawa kendaraan bermotor. Maklum rata-rata dari mereka adalah dari kalangan ekonomi menengah ke atas.

Banyak mahasiswa yang terbiasa mengunakan motornya untuk berkendara di area kampus, mereka lah yang banyak mengeluh. Alternatif karena tidak diperbolehkan untuk memakai kendaraan motor di area kampus, tentunya harus berjalan kaki antar satu gedung ke gedung yang lain. Walau di kampusku berbarengan dengan diterapkannya kebijakan itu telah diluncurkan pula faslitas baru di kampus yaitu peneyediaan beberapa bus yang beroperasi mengitari kampus. Namun banyak dari mahasiswa itu tetap saja mengeluhkan hal itu, tak mungkin harus selalu menunggu bus. Kuliah dan kegiatan lainnya bisa saja telat jika bus tak bisa datang tepat waktu.

Kebijakan untuk tak memakai kendaraan bermotor itu bagiku tak ada masalah, karena aku memang tidak mempunyai motor. Untuk berangkat ke kampus hanya berjalan kaki,  menyusuri gang-gang kecil dari kosku sekitar setengah kilo meter jaraknya. Walau termasuk jarak yang cukup jauh, namun aku tetap melakukannya dengan senang hati. Aku sadar aku bukanlah anak dari seorang yang kaya, keluargaku adalah keluarga yang sederhana. Aku anak dari seorang petani kecil. Berjalan kaki bukanlah masalah buatku, ini juga merupakan bagian dari hidupku. Sering aku melihat teman-temanku yang membawa motor, sering kali aku berandai-andai jika punya motor, mungkin aku tidaklah harus berkeringat hingga sampai ke fakultasku saat selesai berjalan kaki. Hal seperti itu justru membuatku gelisah, namun kala aku bisa menerima kondisiku justru aku merasa bahagia. Salah satunya aku tidak begitu mempermasalahkan kebijakan mengenai transportasi di kampusku itu. mungkin jika aku punya motor dan terbiasa naik motor, mungkin aku pun akan mengeluhkan hal semacam itu.

Kebijakan pelarangan pemakaian di area kampus itu pun akhirnya tetap berjalan, memang kebijakan yang baik niscaya akan tetap berjalan walau diprotes banyak kalangan. Jika memang masyarakat dan orang-orang yang berada di dalam kebijakan itu masih menghargai suatu kebaikan dan kebenaran. Hati dan fikiran tentu tak bisa membohongi diri sendiri untuk senantiasa menginginkan kebaikan. Semua orang ingin rasakan kebaikan dan ingin pula berbuat baik, hanya saja sering kali situasi dan kondisi yang memaksa mereka terkalahkan oleh nafsu mereka sendiri yang justru melalaikan suatu kebaikan dan kebenaran.

UNTAIAN HIKMAH
Pertama, Saat kita bersedia mendengar pendapat orang lain maka saat itu pula kita mendapatkan pengetahuan baru dari sudut pandang yang berbeda. Sering kali di negeri ini kita saling protes memprotes tentang suatu kebijakan. Padahal kita belum mengerti kenapa kebijakan itu diterapkan. Kita acap kali sering menutup telinga kita demi kepentingan diri kita sendiri. Harusnya kita mampu mendengar dan mau memahami pendapat orang lain, jika kita memang menjalani hidup ini atas dasar kebaikan.

Kedua, Saat kita mampu menerima kondisi apapun yang telah digariskan oleh Tuhan, maka kita pun akan menjalani hidup yang kita punya dengan rasa gembira. Sebaliknya saat kita selalu mengeluh karena kita tak memiliki apa yang banyak dimiliki orang lain. Maka saat itu kita akan terbebani dengan rasa iri di hati. Hal itu yang justru membuat kita bersedih dan kurang bisa menikmati hidup yang kita punya.

Ketiga, saat kita tak mengetahui banyak hal di dunia ini maka kita akan menjadi penonton yang pendiam. Tak bisa berkomentar hanya bisa melihat saja. Hal ini aku rasa terjadi di negara ini, rakyat yang kurang berpendidikan selalu menjadi penonton yang diam membisu tak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam manggut-manggut dijejali segala peraturan dan kebijakan yang silih berganti. Bahkan jika kita tak berpendidikan, kita bisa menjadi bahan tontonan bagi orang-orang yang ingin menguasai negeri ini. Maka jangan pernah menjadi orang yang apatis, orang-orang yang tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita.

0 Response to "DILEMA KONSERVASI KAMPUSKU - Catatan Sang Bidikmisi ke-6"

BERLANGGANAN GRATIS VIA EMAIL

Dapatkan Artikel Terbaru Dari Blog Mas Agus JP Melalui Email Anda.