Diantara sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat diantara sesamanya (Nabi Muhammad SAW)

Novel : Emak Aku INgin Kuliah

Novel : Emak Aku INgin Kuliah
CP : 089620423210, Email : mas.agus.jp@gmail.com, PIN : 7529A05C

Sabtu, 06 Juni 2015

4 TIPE PENDAFTAR PERGURUAN TINGGI NEGERI


1.      Sekali Seleksi Langsung Berhasil
Tipe pertama ini adalah termasuk orang-orang yang sangat beruntung dan bahagia sekali. Senyum mereka begitu lebar, karena jalan mereka ke perguran tinggi tinggal ditapaki saja. Mereka tinggal siapkan koper dan capcus menuju TKP. Biasanya sih tipe ini banyak yang tersaring lewat SNMPTN. Mereka memang rata-rata adalah siswa-siswa yang pintar kala di SMA-nya. Betapa gak beruntung gitu bro, tinggal nginput online, gak perlu tes tertulis dan lain-lain eh langsung keterima di PTN. Siapa yang gak ngerasa beruntung sekali coba. Eh tunggu dulu, tapi ya jangan liat dari hasil keterimannya doang lah. Mereka itu tentu dulunya mungkin seorang siswa yang begitu rajin ke sekolah. Berangkatnya pagi-pagi sekali sebelum jam enam, sambil bukain pintu gerbang sekolah. Setiap istirahat gak pergi ke kantin, eh malah bermesraan dengan buku-buku di perpus. Setiap pelajaran diapalin tiap malam, sampai kehabisan bahan hafalan. Atau, setiap pelajaran pasti bertanya-tanya minimal sepuluh pertanyaan. Sampai sang guru menyerah dan lambaikan tangan ke kamera. Hehehe, ya gak seekstrim itulah tentunya. Namun kemungkinan besar mereka adalah siswa yang berprestasi, hingga bisa lolos SNMPTN dengan mudah. Oke mari tepuk tangan buat mereka. Prok prok prok.

2.      Sekali Gagal Langsung Berhenti
Tipe yang kedua ini kebalikan dari yang pertama. Sebut saja dia adalah Jono, dia sama-sama ikut daftar SNMPTN dengan penuh semangat. Setiap malam Jono berdoa sangat lama sekali. Berharap akan bisa diterima di PTN favoritnya. Eh ternyata dia kurang beruntung, nasib tidak berpihak padanya. Kursi kuliah kampus itu masih menolak namanya, hehehe. Hingga dia tiba-tiba down, mukanya lemes dan wajahnya pucat. Padahal dulu dia sangat berharap dengan SNMPTN itu. Dia mengumpat dalam hatinya, “Dasar pemberi harapan palsu”. Padahal

KEWAJIBAN BERORGANISASI BAGI BIDIKMISI - Catatan Sang Bidikmisi Ke-8

Seorang mahasiswa bidikmisi tak akan pernah lepas dari yang namanya kewajiban untuk berorganisasi di dalam kampus, itu lah salah satu poin yang harus aku laksanakan sebagai mahasiswa bidikmisi. Hal itu tertuang jelas dalam surat kontrak mahasiswa bidikmisi yang telah aku tanda tangani di atas materai enam ribu. Salah satu poin dari delapan poin kontrak itu berbunyi bahwa setiap mahasiswa bidikmisi itu haruslah, “Aktif dan menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan ditingkat Jurusan atau Fakultas atau Universitas”. Aktif berorganisasi itu lah intinya, dan aku pun harus melaksanakannya.

Saat awal-awal masa PPA dulu, Unnes sudah mengenalkan berbagai lembaga kemahasiswaan atau organisasi-organisasi yang ada dalam kampus. Oh banyak sekali kala itu, hingga aku tak ingat satu persatu nama organisasi tersebut. Ada yang namanya BEM singkatan dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Ada HIMA, kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa. Ada DPM, singkatan dari Dewan Perwakilan Mahasiswa. Namanya keren fikirku seperti DPR, mungkin ini adalah miniaturnya. Ada lagi yang dikategorikan sebagi UKM, singkatan dari Unit Kegiatan Mahasiswa. UKM yang dikenalkan banyak sekali. Dari yang bertemakan olahraga, bertemakan kesenian, bertemakan karya ilmiah dan yang bertemakan keagamaan. Oh banyak sekali yang ada di kampusku. Ada puluhan organisasi yang bisa aku ikuti, mungkin juga ratusan jumlahnya. Aku pun jadi merasa bingung, aku harus ikut yang mana.

                Malu bertanya sesat di jalan, itu lah pepatah yang tepat jika aku tak berani bertanya. Aku pun mulai bertanya-tanya kepada para kakak tingkat yang aku sudah kenal.
“Mas Mbak, kalau organisasi ini bergelut di bidang apa sih?”
“Mas Mbak, Kalau organisasi ini bagaimana cara daftarnya?”
“Kalau yang ini baik nggak ya menurutmu?”
“Kalau yang ini  cocok nggak buatku?”
“Kira-kira aku dapat diterima nggak ya di organisasi yang ini?”
Berbagai pertanyaan aku lontarkan kepada

DILEMA KONSERVASI KAMPUSKU - Catatan Sang Bidikmisi ke-6

Konservasi adalah suatu usaha dalam pemeliharaan dan perlindungan terhadap suatu hal secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahannya dengan jalan mengawetkan dan melakukan pelestarian. Konservasi, itu lah sebuah kata yang sering aku dengar di kala masa-masa awal aku kuliah. Sebuah kata yang telah dikukuhkan oleh Unnes menjadi label kampus. Unnes, perguruan tinggi yang kini menjadi kampusku telah memplokasmirkan diri sebagai kampus konservasi tepat di tahun 2010. Bertepatan dengan tahun aku masuk kuliah. Sebuah label baru yang mengusung konservasi lingkungan, konservasi moral dan konservasi budaya.

Sebuah label baru telah bersanding dengan nama kampusku kini. Label baru itu pun banyak melahirkan kebijakan baru. Kebijakan-kebijakan baru itu pun banyak yang diperuntukan bagi mahasiswa.  Uji cobanya itu di prioritaskan juga untuk para mahasiswa angkatanku yang memang baru masuk. Aku sebagai mahasiswa baru dan juga para temanku masih begitu lugu dan polosnya menerima kebijakan-kebijakan yang ada.

                Banyak kebijakan baru yang dibuat, kebijakan dalam hal berpakaian salah satunya. Sebagai bentuk upaya untuk menjaga perilaku dan moral lewat cara berpakaian. Setiap hari senin dan selasa memakai pakaian hitam putih, rabu dan kamis memakai batik dan pada hari jum’at memakai seragam pramuka. Aku pun menerima saja kebijakan itu, aku rasa tak ada salahnya kebijakan itu aku laksanakan. Malah bagus fikirku, hal itu bisa menjadikan penyetaraan yang  sama antar sesama mahasiswa. Tak ada persaingan dalam hal berpakaian, tak ada kesenjangan yang terlihat antar si miskin dan si kaya. Semuanya nanti bisa nampak setara. Kebijakan yang baik menurutku, namun tat kala program kebijakan itu mulai berjalan satu minggu dua minggu maka mulai lah terdengar suara para mahasiswa.

“Pengaturan pemakaian seragam membatasi kebebasan berekspresi mahasiswa”
“Berseragam bagi mahasiswa sama saja membuatnya seperti siswa SMA”
“Kami bukan para taruna yang memang nampak bagus jika diseragamkan, tapi kami mahasiswa kami berbeda dengan mereka”

Kalimat-kalimat seperti itu lah yang

PAPER B - Catatan Sang Bidikmisi Ke-5

        Pendidiakan Ekonomi Adminsitrasi Perkantoran, itu lah nama progam studiku yang aku ambil di Unnes. Sebuah progam studi kependidikan yang mempelajari tentang bagaiamana menjadi seorang guru administrasi perkantoran. Jenis guru yang biasanya mengajar di sekolah menengah kejuruan atau SMK. Layaknya seperti kala SMA di sini pun dalam prodi adminstrasi perkantoran aku mempunyai kelas baru dan teman-teman yang baru. Prodi administrasi perkantoran itu di fakultas ekonomi di bagi menjadi dua kelas, kelas A dan kelas B. Aku termasuk mahasiswa yang ditempatkan di kelas B. Jadi nama kelasku adalah pendidikan ekonomi administrasi perkantoran B. Hingga seiring waktu berlalu, nama kelas itu disingkat menjadi PAPER B.

Sebuah kelas yang mempunyai 48 mahasiswa.  terdiri dari 10 laki-laki dan 38 perempuan. Sebuah perbandingan yang begitu fantastis menurutku. Kini aku akan sering berhadapan dengan banyak kaum hawa. Padahal di kala SMA sangat jarang sekali berinteraksi dengan kaum yang begitu misterius itu. 48 Mahasiswa baru dari berbagai daerah. Kebanyakkan masih berasal dari pulau Jawa, hanya ada satu dua yang berasal dari luar pulau Jawa. Seiring berjalannya waktu, kelasku berkurang satu orang. Meiji, seorang mahasiswa dari Medan yang kemudian keluar dari kuliah. Ntah apa sebabnya, aku pun tak tahu. Jumlahnya kini pun hanya tersisa 47 mahasiswa.

Pertama kali kami dikumpulkan adalah kala masa-masa orientasi dulu pas awal masuk yaitu kala PPA (Program Pengenalan Akademik). Masih aku ingat dimana aku harus memimpin para temanku itu untuk bernyanyi meneriakkan yel-yel dalam PPA. Suaraku yang fals terpaksa berada di depan teman-temanku, karena aku ditunjuk sebagai komting pada saat itu. Komting, layaknya ketua kelas kala SMA. Hal itu sebuah awal aku berinteraksi dengan mereka sebagai teman-teman baruku.

Sebagian besar dari teman-temanku berasal dari sekolah-sekolah favorit yang ada di kota mereka. SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 3 atau SMK Negeri serta MA Negeri. Jarang sekali yang berasala dari sekolah swasta, apalagi sekolah swasta pinggiran seperti sekolahku. Sekolahku hanya sekolah swaswa yang baru berdiri dua tahun kala aku masuk pada tahun 2007, SMA Muhammadiyah 03 Kayen Pati. Awalnya aku merasa minder karena tentunya teman-temanku itu adalah sosok-sosok siswa dari sekolah favorit. Tentu mereka adalah mantan siswa-siswa yang pintar.
Perbedaan latar belakang sekolah asal memang tidak terlihat kala sudah kuliah. Tidak ada diskriminasi atau pun penggolongan berdasarkan dari mana seorang mahasiswa itu sekolah. Semua terlihat sama, duduk di kampus yang sama Universitas Negeri Semarang. Aku pun berusaha untuk bisa seperti mereka. Walau dari sekolah pinggiran bukan berarti aku harus merendah diri. Suatu saat malah ada temanku yang bertanya,

“Agus, kamu berasal dari SMA Negeri 1 Pati ya?”
“Ah bukan, sekolahku tak sefavorit itu?” Jawabku
“Aku kira kamu dari

Selasa, 27 Januari 2015

HAL-HAL YANG HARUS DIKETAHUI SAAT PACARAN

Tahu gak pacaran itu lama-lama bikin gemuk, tau gak kenapa ???  hayo gak tau kan, Ya habis setiap saat ditanyain “Dah maem belum?”.Nggak pagi, nggak siang, nggak malem ditanyain terus. Iya nggak? Hehehe.

Pacaran itu seperti memegang bunga mawar, indah sih bunganya. Rasanya begitu bangga ketika memegangnya. Tapi awas loh, salah pegang dikit ja rasain tuh durinya. Ya tentunya akan bikin luka yang sangat perih. Apalagi kalau memegangnya erat-erat.

Pacaran itu juga seperti orang nonton TV, lho apa hubungannya. Ya gak suka chanelnya langsung diganti. Nggak suka acaranya, ganti lagi. Banyak iklan, ganti lagi. Membosankan, ganti lagi. Ada yang lebih menarik, yups ganti lagi.

Pacaran itu seperti main layang-layang lho. Kita itu seperti terbang melayang-layang tinggi sekali dengan bebas. Bahkan kadang juga sampai lupa daratan. Hehe, tapi

Senin, 26 Januari 2015

MUNGKIN ARTI JATUH CINTA ITU???

                

Pernahkah dirimu merasa malu saat bertemu seseorang. Saat bersimpangan dengannya kau sering kali mengalihkan pandanganmu. Seolah menatap wajahnya saja, saat itu adalah sesuatu yang berat sekali. Hingga akhirnya seseorang itu justru menyapamu, dan akhirnya kau terbata-bata membalas sapanya dengan kata-kata yang ntah apa artinya. Kau pun lupa apa saja yang kau katakan padanya barusan. Saat kau lihat dirinya tersenyum padamu, kau merasa gugup tak karuan. Hingga balasan senyummu justru seolah kaku, karena kau saat itu sedang merasakan degupan di jantungmu yang terasa semakin kencang saja. Hingga akhirnya langkahmu pun terpaksa pisahkannya darimu, hingga kau baru sadar tentang apa yang terjadi. Kau baru mengerti setelah langkahnya sudah tak terdengar lagi dari telingamu. Kau hanya bisa memandangnya dari kejauhan, menatap sosoknya dari belakang. Langkahnya semakin jauh darimu, namun saat itu kau justru tersenyum tanpa alasan. Kau hanya tersenyum, dan kau sendiri tak tahu kenapa kau tersenyum. Kau merasakan sesuatu yang aneh, walau senyummu tak begitu lebar. Namun kau merasa senang, sedangkan tanpa kau sadari degup jantungmu pun masih berdetak kencang hanya karena bertemu dengannya tadi.

Pernahkah kau merasakan seperti itu kawan? Aku pun pernah. Kala bertemu sosok yang sering kali terbayang di fikiranku. Aku pun tak tahu kenapa sosok itu terbayangkan olehku. Tidak tahu pula sejak kapan aku mulai memikirkannya. Tahu-tahu sering kali sosoknya hadir begitu saja tanpa aku undang. Datang seolah penuh senyum menyapaku dalam lamunanku. Apa kau juga pernah rasakan hal itu kawan. Atau mungkin pernah tanpa kau sadari, perhatianmu tertuju kepada seseorang. Kau memperhatikannya dari kejauhan. Menatapnya dari sisi yang tidak dia ketahui. Namun kau tak berani menatapnya dalam waktu yang cukup lama. Karena kau khawatir tiba-tiba dia menoleh ke arahmu dan justru melihatmu yang dari tadi menatapnya. Hingga kau seperti orang yang aneh. Seolah bermain mata, matamu meliriknya dengan pelan. Mencoba mencuri-curi pandang ke arahnya. Terkadang kau pun merasa malu, tat kala tiba-tiba orang-orang di sekitarmu mengetahui bahwa dirimu memperhatikan sosok itu.

Seiring berjalannya waktu, kau mulai berani

Follow by Email

Bidikmisi